Jumat, 21 Maret 2014

asuhan keperawatan BBLR



BAB I
LAPORAN PENDAHULUAN
1. Definisi
·         BBLR adalah bayi yang lahir dengan berat kurang dari 2500 gram. Bila berat kurang dari 1500 gram digolongkan dalam BBLSR (Bayi Berat Lahir Sangat Rendah) (Standar Profesi Ilmu Kesehatan Anak, 2005).
·         BBLR adalah bayi yang lahir dengan berat badan kurang dari 2500 gram tanpa memperhatikan usia gestasi (Wong, 2004).
·         BBLR adalah bayi yang pada waktu lahir kurang dari 2500 gram (http://www.goggle.com)

2. Etiologi
v  Faktor ibu
§  Diabetes Melitus
§  Kehamilan ganda
§  Kecanduan/ketagihan obat
§  Penyakit kronis: jantung, ginjal, infeksi
§  Perokok dan alkoholisme
§  Multigravida
§  Primigravida pada usia kurangdari 16 tahun atau lebih dari 35 tahun
§  Gizi kurang selama kehamilan
v  Faktor dari anak
§  Kelainan kromosom (Trisomi 13, 18, 21 dan Sindrom turner)
§  Infeksi (Rubella, Toxoplasma, Cytomegalo virus)
§  Cacat bawaan
§  Lahir sebelum waktunya atau umur kehamilan belum mencapai 9 bulan




v  Faktor plasenta
§  Plasenta previa, abrutio plasenta.
v  Faktor sosial
§  Kurangnya perawatan prenatal, status sosial ekonomi kurang
3. Manifestasi klinis
  • Kulit tipis, merah dan transparan
  • Tonus otot hipotoni
  • Tangisan terdengar lemah
  • Tali pusat tampak tebal dan segar
  • Abdomen membuncit
  • Jaringan lemak dibawah kulit dan vernik sedikit
  • Berat badan kurang dari 2500 gr
  • Panjang kurang dari 45 cm
  • Lingkar dada kurang dari 30 cm
  • Lingkar kepala kurang dari 33 cm
  • Cepat kehilangan panas badan
  • Fungsi gastrointestinal belum sempurna
  • Rentan terhadap infeksi
  • Berbaring dengan sikap relaks, lengan lebih ekstensi, ukuran lebih kecil, kepala lebih besar dari pada tubuh
  • Kartilago kurang berkembang, mudah dilihat, lanugo menutupi belakang tubuh dan bagian muka
  • Telapak kaki: garis-garis halus tanpa lekukan
  • Pada bayi wanita: klitoris menonjol, labia mayora belum berkembang baik
  • Pada bayi pria: scrotum belum berkembang, rugae sedikit, testis belum turun
  • Lemah dan mudah kedinginan karena lapisan lemak bawah kulit tipis
  • Cepat lelah, sering tersedak pada waktu menyusu dan malas menghisap
  • Mudah terkena penyakit, gangguan pernafasan, mudah meninggal bila terkena penyakit
4. Patofisiologi
Selama hari-hari pertama setelah lahir, bayi-bayi risiko tinggi (pada tulisan ini dibatasi pada bayi prematur dengan berat badan lahir sangat rendah) akan berhadapan dengan berbagai situasi sulit. Pasien dengan masalah akut seperti distres pernapasan,duktus arteriosus persisten, dan hiperbilirubinemia memerlukan dukungan nutrisi yang maksimal. Oleh karena itu asupan nutrisi perlu mencukupi untuk mengganti kerusakan dan regenerasi jaringan. Selanjutnya karena fungsi saluran cerna dan ginjal yang belum matang serta kebutuhan adaptasi metabolik untuk menghadapi kehidupan ekstra uterin akan menyebabkan terbatasnya penyediaan nutrien untuk pemeliharaan jaringan dan pertumbuhan.
Selama trimester ketiga kehamilan penyediaan nutrisi dipersiapkan untukmenghadapi usia kehamilan sampai 40 minggu. Lemak dan glikogen disimpan sebagaipersiapan energi siap pakai untuk menghadapi kekurangan kalori. Cadangan besi disiapkan untuk mencegah terjadinya anemia defisiensi sampai bayi berumur 4-6 bulan.
Demikian pula kalsium dan fosfor di deposit dalam tulang. Bayi yang lahir kurang bulan mempunyai cadangan nutrisi yang minimal dan kebutuhan nutrien per kg lebih tinggi dibandingkan bayi cukup bulan. Bayi berat kurang dari 1,5 kg mempunyai komposisi tubuh kira-kira 83-89% air, 9-10% protein, dan 0,1-5% lemak. Selama beberapa hari setelah lahir bayi akan kehilangan berat badan teutama terjadi karena sedikitnya asupan
kalori dan kehilangan cairan ekstra selular. Kebutuhan energi juga bertambah karena adanya pemecahan protein endogen di otot-otot skeletal dan sedikitnya cadangan lemak.Oleh karena itu asupan protein dan kalori eksogen yang tidak adekuat dapat mengancam jiwa bayi kurang bulan yang sakit. Penelitian menunjukkan bahwa asupan nutrien pada awal kehidupan mempunyai dampak pada perkembangan bayi umur 18 bulan (Johnson,
1994).
Kemampuan bayi untuk mengkoordinasi menghisap dan menelan baru terlihat pada usia kehamilan 34 minggu. Kemampuan ini tampaknya lebih berhubungan dengan umur pasca konsepsi daripada parameter berat badan. Latihan yang diberikan pada bayi kurang bulan tampaknya tidak dapat menstimulasi kemampuan ini menjadi lebih matang pada usia konsepsi yang lebih awal. Motilitas sistem gastrointestinal tergantung dari kematangan sistem syaraf. Pada usia kehamilan 24 minggu esofagus meunjukkan pola peristalik yang tidak terkoordinasi, saat usia kehamilan cukup bulan peristalitik esophagus menjadi cukup matang untuk mendorong makanan ke arah gaster. Sfinkter esophagus bagian bawah bayi kurang bulan masih lemah dan kemampuan untuk mencegah refluks gastroesofagus sangat kurang. Gaster sendiri baru mencapai tingkat kematangan pada trimester ketiga. Koordinasi gerakan peristalitik dari antrum ke pilorus belum baik sehingga sering terjadi antiperistalik yang dapat menimbulkan refluks gastroesofagus.Selain itu waktu pengosongan lambung bayi kurang bulan juga lebih panjang dan volume gaster lebih kecil. Adanya pola koordinasi yang masih kurang baik karena belum matangnya usus menyebabkan bayi kurang bulan sering mengalami intoleransi makanan yang mempunyai kemampuan untuk mencerna nutrien dalam bentuk kompleks.Untunglah bayi manusia memperoleh ASI yang merupakan nutrisi yang mudah diserapdan dapat memenuhi kebutuhan nutrien sampai umur 6 bulan. Hanya saja untuk bayi
berat lahir kurang dari 1500 gram dibutuhkan ASI yang difortifikasi (Johnson, 1994).

6. Komplikasi

v  Bayi premature:
Asfiksia, sindroma gawat nafas neonatus, hipotermia, hipoglikemia, hipokalsemia, hiperbilirubinemia, perdarahan peri-intraventrikuler, perdarahan paru dan elektrokolitis nekrotikan
v  Bayi kecil masa kehamilan:
Hipoglikemia, asfiksia, infeksi, aspirasi neonatorum, polisitemia, hiperbilirubinemia


7. Pemeriksaan diagnostik
1.    Analisa gas darah ( PH kurang dari 7,20 ).
2.    Penilaian APGAR Score meliputi (Warna kulit, frekuensi jantung, usaha nafas, tonus otot dan reflek).
3.    Pemeriksaan EEG dan CT-Scan jika sudah timbul komplikasi.
4.    Pengkajian spesifik/
5.    Pemeriksaan fungsi paru/
6.    Pemeriksaan fungsi kardiovaskuler/ (Pediatric.com)
8.Penatalaksanaan medis
a.          Pastikan bahwa bayi terjaga dengan hangat
b.         Bungkus bayi dengan kain lunak, kering, selimut, pakai topi untuk menghindari kehilangan panas
c.          Awasi frekuensi pernapsan terutama dalam 24 jam pertama, guna mengetahui syndrome aspirasi mekonium/sindrom gangguan pernapasan idiopatik
d.         Suhu diawasi jangan sampai kediniginan karena BBLR mudah hipotermi akibat dari luas permukaan tubuh bayi realitf besar dari lemak subkutan. BMR dari BBLR rendah saat lahir dan meningkat cepat selama 10 hari pertama kehidupan. Oleh karena itu penting untuk mempertahankan suhu tubuh dengan memberikan pakaian pada bayi. Suhu ruangan yang terlalu tinggi atau terlalu rendah tidak sesuai dengan seharusnya dapat meningkatkan kematian bayi BBLR
e.          Dorong ibu menyusui dalam 1 jam sekali
f.          Jika bayi haus, beri makanan dini berguna untuk mencegah hipoglekimia
g.         Jika bayi sinaosis atau sukar bernafas (frekuensi < 30 atau 60/menit)). Tarikan dinding dada ke dalam atau merintih beri O2 melalui kateter hidung.
h.         Cegah infeksi oleh karena rentan oleh pemindahan IgB dari ibu ke janin terganggu. Bayi BBLR ditempatkan di ruang khusus, harus ada pengaturan izin masuk, mencucui tangan sesudah dan sebelum menyentuh bayi serta gunakan gound dan masker.
i.           Periksa kadar gula darah tiap 8-12 jam.
9. Penatalaksanaan keperawatan
  • Resusitasi yang adekuat, pengaturan suhu, terapi oksigen
  • Pengawasan terhadap PDA (Patent Ductus Arteriosus)
  • Keseimbangan cairan dan elektrolit, pemberian nutrisi yang cukup
  • Pengelolaan hiperbilirubinemia, penanganan infeksi dengan antibiotik yang tepat
10. Mencegah terjadinya BBLR pada masa kehamilan
  • Ibu hamil makan lebih banyak atau satu kali lebih sering dari pada sebelum hamil
  • Ibu hamil memeriksakan kehamilannya secara teratur minimal 4 kali selama kehamilan
  • Ibu hamil minum tablet zat besi secara teratur minimal 90 tablet selama kehamilan
  • Ibu hamil mengurangi kerja yang mellahkan, mendapatkan istirahat yang cukup dan tidur lebih awal
  • Menjaga jarak kehamilan paling sedikit 2 tahun



BAB II
 ASKEP TEORITIS


2.1 Pengkajian
1.      Biodata
a.       Identitas bayi: Nama, jenis kelamin, BB, TB, LK, LD.
b.      Identitas orang tua: Nama, umur, pekerjaan, pendidikan, alamat.
c.       Keluhan utama: BB < 45 cm, LD < 30 cm, LK < 33 cm, hipotermi.
d.      Riwayat penyakit sekarang.
e.       Riwayat penyakit keluarga.
f.       Riwayat penyakit dahulu.
2.      Pemeriksaan fisik biologis
·         Ibu
-          Riwayat kehamilan dan umur kehamilan.
-          Riwayat persalinan dan proses pertolongan persalinan yang dahulu dan sekarang.
-          Riwayat fisik dan kesehatan ibu saat pengkajian.
-          Riwayat penyakit ibu.
-          Psikososial dan spiritual ibu.
-          Riwayat perkawinan.





·         Bayi
-          Keadaan bayi saat lahir; BB < 2500 gr, PB < 45 cm, LK 33 cm, LD < 30 cm.
-          Inspeksi
1.      Kepala lebih besar daripada badan, ubun-ubun dan sutura lebar.
2.      Lanugo banyak terdapat pada dahi, pelipis, telinga dan tangan.
3.      Kulit tipis, transparan dan mengkilap.
4.      Rambut halus, tipis dan alis tidak ada.
5.      Garis telapak kaki sedikit.
6.      Retraksi sternum dengan iga
7.      Kulit menggantung dalam lipatan (tidak ada lemak sub kutan).
-          Palpasi
1.      Hati mudah dipalpasi.
2.      Tulang teraba lunak.
3.      Limpa mudah teraba ujungnya.
4.      Ginjal dapat dipalpasi.
5.      Daya isap lemah.
6.      Retraksi tonus – leher lemah, refleks Moro (+).
-          Perkusi
-          Auskultasi
1.      Nadi lemah.
2.      Denyut jantung 140 – 150 x/menit, respirasi 60 x/menit.
2.2  Diagnosa keperawatan
1.      Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan imaturitas paru
2.      Termoregulasi tidak efektif berhubungan dengan kontrol suhu yang imatur dan penurunan lemak tubuh subkutan
3.      Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan pertahanan imunolgis yang kurang
4.      Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan ketidakmampuan mencerna nutrisi karena imaturitas
                                                                                                               
2.3  Intervensi/Rencana Asuhan Keperawatan
1.      Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan imaturitas paru
Tujuan                   : Pola nafas kembali efektif
Kriteria hasil          :  - Frekuensi dan pola nafas dalam batas normal
-    Oksigenisasi jaringan adekuat
Intervensi
Rasional
a.       Atur posisi terlentang dengan leher sedikit ekstensi
b.      Kaji adanya tanda-tanda distress pernafasan (sianosis, pernafasan cuping hidung, apnue)
c.       Lakukan penghisapan lendir

d.      Hindari posisi trendelenburg

e.       Berikan oksigen 1-2 liter/menit
a.       Untuk mencegah adanya penyempitan jalan nafas
b.      Untuk mengetahui keadaan/sistem pernafasan

c.       Menghilangkan mukus yang terakumulasi dan nasofaring, trakea
d.      Menyebabkan peningkatan TIK dan menurunkan kapasitas paru
e.       Untuk memenuhi kebutuhan tubuh akan oksigen




2.      Termoregulasi tidak efektif berhubungan dengan kontrol suhu yang imatur dan penurunan lemak tubuh subkutan
Tujuan                   : Pasien mempertahankan suhu tubuh stabil
Kriteria hasil          : Suhu tubuh bayi dalam batas normal

Intervensi
Rasional
  1. Tempatkan bayi didalam inkubator dan lakukan pengaturan suhunya sesuai kebutuhan bayi, pakaian hangat
  2. Hindari bayi kontak langsung dengan udara dingin, jendela
  3. Observasi tanda-tanda hipotermi
  4. Setelah mandi keringkan segera tubuh bayi
  1. Untuk mempertahankan suhu tubuh stabil

  1. Untuk mencegah terjadinya kehilangan panas
  2. Untuk mempertahankan suhu stabil
  3. Untuk mempertahankan suhu stabil

3.      Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan pertahanan imunolgis yang kurang
Tujuan                      :  Pasien tidak menunjukkan tanda-tanda infeksi   nosokomial
Kriteria hasil             :  Pasien tidak menunjukkan tanda-tanda infeksi nosokomial seperti terjadi demam

Intervensi
Rasional
  1. Cuci tangan sebelum dan sesudah melakukan tindakan pada bayi
  2. Lindungi bayi dari sumber infeksi (orang yang flu, infeksi pernafasan, makanan)
  3. Lakukan perawatan tali pusat

  1. Kolaborasi pemberian antibiotik
  1. Meminimalkan pemajanan/penyusun organisme
  2. Mencegah/menurunkan terjadinya infeksi pada bayi

  1. Mencegah terjadinya infeksi/tetanus neonatorum
  2. Untuk mengurangi/mencegah infeksi
                                         
4.      Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan ketidakmampuan mencerna nutrisi karena imaturitas
Tujuan                   : Pasien dapat mempertahankan  nutrisi yang adekuat
Kriteria hasil          : Pasien menunjukkan penambahan berat badan

Intervensi
Rasional
  1. Kaji kekuatan menghisap dan refleks menelan

  1. Support ibu untuk menyusui bayinya

  1. Letakkan bayi pada posisi miring setelah pemberian nutrisi
  2. Timbang berat badan anak setiap hari
  1. Merangsang kemampuan menghisap dan refleks menelan bayi
  2. Untuk mempertahankan ibu sampai dapat menyusui
  3. Untuk mencegah terjadinya aspirasi

  1. Untuk mengetahui berat badan/nutrisi yang adekuat









5. Patoflow
                                                           


 


Faktor dari ibu:                             Faktor dari anak:                            Faktor plasenta:                                 
-    Gizi buruk kronis                      - Kelainan kromosom                  - Abrupsio plasenta                            
-    Diabetes melitus                       - Infeksi                                           - Plasenta previa                                    
-    Kehamilan ganda                                                                                                                                                   
-    Jarak yang pendek                                                                         
   antara 2 kehamilan        


 
                                                                      
                                                                        BBLR                                                                                           


 
                                                           
                                                             Imatur organ-organ                                                                              

 






Sistem sirkulasi                      Sistem pernafasan                  Sistem termoregulasi       Sistem gastrointestinal     Sistem imun
















 


Penurunan tekanan                                                                        Penyekatan lemak               Refleks hisap,                Cadangan
        sistemik                  Penurunan         Defisiensi kadar    subkutan yang minimal               menelan (-)               imunoglobin
                                        jumlah alveoli           surfaktan                                                                                                          maternal
                                           fungsional                                                                                                                                           menurun
Peningkatan tekanan                                                                  Cadangan lemak coklat        Aktivitas otot,               (Ig A, Ig M)
     atrium kanan                                                                               (brown fat) terbatas        pencernaan belum
                                                                                                                                                               sempurna
                                                                                                                                                                                                    Kemampuan
Tekanan diparu-paru         Perkembangan paru-paru                  Pusat pengaturan                                                                     membentuk
        bertambah                          tidak sempurna                                  suhu imatur                   Sistem enzim                 antibodi (-)
                                                                                                                                                                belum matur
                                                                                                                                                                                                               
Darah+O2 ke                                                                                                                                                                                                                                                                        
Termoregulator tidak efektif
 
paru-paru berkurang                  Alveoli kolaps                                                                               Penurunan                   Penurunan
                                                                                                                                                                penyerapan                    respon
                                                                                                                                                                  makanan                       imun
Sirkulasi paru                             Respirasi dangkal         
   menurun
                                                                                                                                                                                                               
Perubahan kebutuhan nutrisi
 
                                                                                                                                                                                                         Rentan
                                                     Distress pernafasan                                                                                                                terhadap
                                                                                                                                                                                                          infeksi









Pola nafas tidak efektif
 



Resiko tinggi infeksi
 

 
                               









DAFTAR PUSTAKA

Mahdiyat, Iskandar, 1985, Buku Kuliah Ilmu Kesehatan Anak. FK UI.
Pusdiknakes. 1984. Perawatan Bayi dan Anak. Depkes RI : Jakarta
Pusdiknakes. 1995. Asuhan Keperawatan Anak dalam Konteks Keluarga. Depkes RI: Jakarta
http://mocos-87.blogspot.com/p/blog-page_3880.html
http://ppnikesdambrw.wordpress.com/2012/11/28/askep-anak-berat-badan-lahir-rendah-bblr/
http://nersrezasyahbandi.blogspot.com/2013/02/asuhan-keperawatan-bayi-dengan-bblr.html