Rabu, 02 Oktober 2013

asuhan keperawatn spina befida

TUGAS KELOMPOK
ASUHAN KEPERAWATAN SPINA BIFIDA
Disusun oleh

1.                 Alim Yansyah
2.                 Ahiri
3.                 Dwi Novita Sari
4.                 Efriani
5.                 Jeni tri susanti
6.                 Putri Lestari
7.                 Pelita Nuramini
8.                 Nurlestari
9.                 Rena Mirnawati Dewi
10.           Riko Anggara
11.           Suzi Benerli



Dosen Pembimbing : Alkhusari, S.Kep, Ners


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN BINA HUSADA
PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN
TAHUN 2012/2013
BAB I
PENDAHULUAN
1.1    Latar belakang
Spina bifida (sumbing tulang belakang) adalah suatu celah pada tulang belakang (vertebra) yang terjadi karena bagian dari satu atau beberapa vertebra gagal menutup atau gagal terbentuk secara utuh. Biasanya penutupan tabung saraf terjadi pada minggu ke empat masa embrio. Namun jika sesuatu yang mengganggu dan tabung gagal untuk menutup dengan baik, cacat tabung saraf akan terjadi. Diperkirakan bahwa hampir 50 % defek tabung saraf dapat dicegah jika wanita yang bersangkutan meminum vitamin-vitamin prakonsepsi termasuk asam folat
Spina bifida adalah penutupan salah satu kolumna vertebralis tanpa tingkatan protusi jaringan melalui celah tulang ( Donna L.wong,2003). Penyakit spina bifida atau sering dikenal dengan sumbing tulang belakang adalah salah satu penyakit yang banyak terjadi pada bayi. Penyakit ini menyerang melalui medulla spinalis dimana ada suatu celah pada tulang belakang (vertebra). Hal ini terjadi karena ada satu atau beberapa bagian dari vertebara gagal menutup atau gagal terbentuk secara utuh dan dapat menyebabkan cacat berat pada bayi,ditambah lagi penyebab utama dari penyakit ini masih belum jelas.
Hal ini jelas akan menyebabkan gangguan pada sistem saraf karena medula spinalis termasuk sistem saraf pusat yang tentunya memiliki peranan yang sangat penting dalam sistem saraf manusia. Jika medulla spinalis mengalami gangguan,system-sistem lain yang diatur oleh medulla spinalis pasti juga akan terpengaruh dan akan mengalami gangguan pula. Hal ini akan semakin memperburuk kerja organ dalam tubuh manusia , apalagi pada bayi yang system tubuhnya belum berfungsi secara maksimal.Fakta mengataka dari 3 kasus yang sering terjadi pada bayi yang baru lahir di Indonesia yaitu ensefalus,anensefali, dan spina bifida. Sebanyak 65% bayi baru lahir terkena spina bifida. Sementara itu fakta lain mengatakan 4,5% dari 10.000 bayi yang lahir di Belanda menderita penyakit ini atau sekitar 100 bayi setiap tahunnya. Bayi – bayi tersebut butuh perawatan medis yang intensif sepanjang hidup mereka. Biasanya mereka menderita lumpuh kaki, dan dimasa kanak-kanak harus dioperasi berulang kali.
1.2    Tujuan
1.Tujuan Umum
Mahasiswa mampu menjelaskan tentang konsep penyakit spina bifida serta pendekatan asuhan keperawatannya.
2.Tujuan Khusus
·         Mahasiswa mampu mengidentifikasikan defenisi dari spina bifida
·         Mahasiswa mampu mengidentifikasikan etiologi dan klasifikasi dari spina bifida
·         Mahasiswa mapu mengidentifikasi tanda dan geja penyakit spina bifida
·         Mahasiswa mampu memngidentifikasi dan menguraikan patofisiologi dan pathway spina bifida
·         Mahasiswa dapat mengetahui pemeriksaan penunjang dari penyakit spina bifida
·         Mahasiswa mampu mengetahui penatalksanaan dan pencegahan penyakit spina bifida
·         Mahasiswa bisa mengetahui faktor resiko dan kompliksasi dari penyeakit ini
·         Mahasiswa dapat mengetahui diagnosa dan konsep askep dari spina bifida.










BAB II
PEMBAHASAAN
2.1 Definisi
Spina bifida adalah defek pada penutupan kolumna vertebralis dengan atau tanpa tingkatan protusi jaringan melalui celah tulang (Donna L, Wong,2003).
Spina bifida adalah kegagalan arkus vertebralis untuk berfusi di posterior (Rosa M Sacharin, 1996). Spina bifida merupakan suatu kelainan bawaan berupa defek pada arkus posterior tulang belakang akibat kegagalan penutupan elemen saraf dari kanalis pada perkembangan awal dari embrio (Chairuddin Rasyad, 1998).
Keadaan ini biasanya terjadi pada minggu ke empat masa embrio. Derajat dan lokalisasi defek bervariasi, pada keadaan yang ringan mungkin hanya ditemukan kegagalan fungsi satu atau lebih dari satu arkus pascaerior vertebra pada daerah lumosakral.
Spina bifida adalah gagal menutupnya columna vertebralis pada masa perkembangan fetus. Defek ini berhubugan dengan herniasi jaringan dan gangguan fusi tuba neural.Gangguan fusi tuba neural terjadi sekitar minggu ketiga setelah konsepsi, sedangkan penyebabnya belum diketahui dengan jelas.

2.2 AnatomiFisiologi
            Untuk memperkuat dan menunjang tugas tulang belakang dalam menyangga berat badan, maka tulang belakang di perkuat oleh otot dan ligament , antara lain :
Ligament :
1. Ligament Intersegmental ( menghubungkan seluruh panjang tulang belakang dari ujung ke ujung): Ligament Longitudinalis Anterior,  Ligament Longitudinalis Posterior,  Ligament praspinosum
2. Ligament Intrasegmental ( Menghubungkan satu ruas tulang belakang ke ruas yang berdekatan): Ligamentum Intertransversum ,Ligamentum flavum, Ligamentum Interspinosum
3. Ligamentum – ligamentum yang memperkuat hubungan di antara tulang occipitalis dengan vertebra CI dengan C2, dan ligamentum sacroilliaca di antara tulang sacrum dengan tulang pinggul
2.3 Etiologi
Resiko melahirkan anak dengan spina bifida berhubungan erat dengan kekurangan asam folat, terutama yang terjadi pada awal kehamilan. Kelainan bawaan lainnya yang juga ditemukan pada penderita spina bifida (diagnosa banding)  :
·        Kekurangan asam folat pada saat kehamilan satu gugus yang berperan dalam pembentukan DNA pada proses erithropoesis. Yaitu, dalam pembentukan sel-sel darah merah atau eritrosit (butir-butir darah merah) dan perkembangan sistem syaraf.
·        Rendahnya kadar vitamin maternal Rendahnya vitamin maternal yang di konsumsi akan mengurangi vitamin yang dibutuhkan dalam pembentukan embrio, apa lagi pada awal masa kehamilan, sehingga nutrisi yang dibutuhkan dalam membutuk tulang pada bayi, menjadi lambat dan kurang sempurna.
2.4 Klasifikasi
Beberapa jenis spina bifida :
1.  Okulta : merupakan spina bifida yang paling ringan. Satu atau beberapa vertebra tidak terbentuk secara normal, tetapi korda spinalis dan selaputnya (meningens) tidak menonjol.
Gejalanya :
·         Seberkas rambut pada daerah sakral (panggul bagian belakang)
·         Lekukan pada daerah sakrum
2.      Meningokel : meningens menonjol melalui vertebra yang tidak utuh dan teraba sebagai suatu benjolan dari cairan dibawah kulit.
·         menonjolnya meninges
·         sumsum tulang belakang
·         cairan serebrospinal
3.      Mielokel : jenis spina bifida yang paling berat, dimana korda spinalis menonjol dan kulit diatasnya tampak kasar da merah.

2.5 Manifestasi Klinis
Gejalanya bervariasi, tergantung kepada beratnya kerusakan pada korda spinalis dan akar saraf yang terkena. Beberapa anak memiliki gejala ringan atau tanpa gejala; sedangkan yang lainnya mengalami kelumpuhan pada daerah yang dipersarafi oleh korda spinalis maupun akar saraf yang terkena.

Gejalanya berupa:

1.      Penonjolan seperti kantung di punggung tengah sampai bawah pada bayi baru lahir jika disinari, kantung tersebut tidak tembus cahaya
2.      Kelumpuhan/kelemahan pada pinggul, tungkai atau kaki
3.      Penurunan sensasi.
4.      Inkontinensia urin (beser) maupun inkontinensia tinja
5.      Korda spinalis yang terkena rentan terhadap infeksi (meningitis).
6.      Seberkas rambut pada daerah sakral (panggul bagian belakang).
7.      Lekukan pada daerah sakrum.
8.      Abnormalitas pada lower spine selalu bersamaan dengan abnormalitas upper spine (arnold chiari malformation) yang menyebabkan masalah koordinasi
9.      Deformitas pada spine, hip, foot dan leg sering oleh karena imbalans kekuatan otot dan fungsi
10.  Masalah bladder dan bowel berupa ketidakmampuan untuk merelakskan secara volunter otot (sphincter) sehingga menahan urine pada bladder dan feses pada rectum.
11.  Hidrosefalus mengenai 90% penderita spina bifida. Inteligen dapat normal bila hirosefalus di terapi dengan cepat.
12.  Anak-anak dengan meningomyelocele banyak yang mengalami tethered spinal cord. Spinal cord melekat pada jaringan sekitarnya dan tidak dapat bergerak naik atau turun secara normal. Keadaan ini menyebabkan deformitas kaki, dislokasi hip atau skoliosis. Masalah ini akan bertambah buruk seiring pertumbuhan anak dan tethered cord akan terus teregang.
13.  Obesitas oleh karena inaktivitas
14.  Fraktur patologis pada 25% penderita spina bifida, disebabkan karena kelemahan atau penyakit pada tulang.
15.  Masalah psikologis, sosial dan seksual
16.  Alergi karet alami (latex)





2.6 Patofisiologi
            Spina bifida disebabkan oleh kegagalan dari tabung saraf untuk menutup selama bulan pertama embrio pembangunan (sering sebelum ibu tahu dia hamil). Biasanya penutupan tabung saraf terjadi pada sekitar 28 hari setelah pembuahan.
Namun, jika sesuatu yang mengganggu dan tabung gagal untuk menutup dengan baik, cacat tabung saraf akan terjadi. Obat seperti beberapa Antikonvulsan, diabetes, setelah seorang kerabat dengan spina bifida, obesitas, dan peningkatan suhu tubuh dari demam atau sumber-sumber eksternal seperti bak air panas dan selimut listrik dapat meningkatkan kemungkinan seorang wanita akan mengandung bayi dengan spina bifida. Namun, sebagian besar wanita yang melahirkan bayi dengan spina bifida tidak punya faktor risiko tersebut, sehingga meskipun banyak penelitian, masih belum diketahui apa yang menyebabkan mayoritas kasus.
Beragam spina bifida prevalensi dalam populasi manusia yang berbeda dan bukti luas dari strain tikus dengan spina bifida menunjukkan dasar genetik untuk kondisi. Seperti manusia lainnya penyakit seperti kanker, hipertensi dan aterosklerosis (penyakit arteri koroner), spina bifida kemungkinan hasil dari interaksi dari beberapa gen dan faktor lingkungan. Penelitian telah menunjukkan bahwa kekurangan asam folat (folat) adalah faktor dalam patogenesis cacat tabung saraf, termasuk spina bifida.








2.8 Pemeriksaan  Penunjang
Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala dan hasil pemeriksaan fisik. Pemeriksaan dapat dilakukan pada ibu hamil dan bayi yang baru dilahirkan, pada ibu hamil, dapat dilakukan pemeriksaan :
  1. Pada trimester pertama, wanita hamil menjalani pemeriksaan darah yang disebut triple screen yang terdiri dari pemeriksaan AFP, ultrasound dan cairan amnion.
  2. Pada evaluasi anak dengan spina bifida, dilakukan analisis melalui riwayat medik, riwayat medik keluarga dan riwayat kehamilan dan saat melahirkan. Tes ini merupakan tes penyaringan untuk spina bifida, sindroma Down dan kelainan bawaan lainnya. Pemeriksaan fisik dipusatkan pada defisit neurologi, deformitas muskuloskeletal dan evaluasi psikologis. Pada anak yang lebih besar dilakukan asesmen tumbuh kembang, sosial dan gangguan belajar.
  3. Pemeriksaan x-ray digunakan untuk mendeteksi kelainan tulang belakang, skoliosis, deformitas hip, fraktur pathologis dan abnormalitas tulang lainnya.
  4. USG tulang belakang bisa menunjukkan adanya kelainan pada korda spinalis maupun vertebra dan lokasi fraktur patologis.
  5. CT scan kepala untuk mengevaluasi hidrosepalus dan MRI tulang belakang untuk memberikan informasi pada kelainan spinal cord dan akar saraf.
  6. 85% wanita yang mengandung bayi dengan spina bifida atau defek neural tube, akan memiliki kadar serum alfa fetoprotein (MSAP atau AFP) yang tinggi. Tes ini memiliki angka positif palsu yang tinggi, karena itu jika hasilnya positif, perlu dilakukan pemeriksaan lanjutan untuk memperkuat diagnosis. Dilakukan USG yang biasanya dapat menemukan adanya spina bifida. Kadang dilakukan amniosentesis (analisa cairan ketuban).



Setelah bayi lahir, dilakukan pemeriksaan berikut:
  1. Rontgen tulang belakang untuk menentukan luas dan lokasi kelainan.
  2. USG tulang belakang bisa menunjukkan adanya kelainan pda korda spinalis maupun vertebra
  3. CT scan atau MRI tulang belakang kadang dilakukan untuk menentukan lokasi dan luasnya kelainan.
2.9 Penatalaksanaan Medis
Penatalaksanaan pada penderita spina bifida memerlukan koordinasi tim yang terdiri dari spesialis anak, saraf, bedah saraf, rehabilitasi medik, ortopedi, endokrin, urologi dan tim terapi fisik, ortotik, okupasi, psikologis perawat, ahli gizi sosial worker dan lain-lain.
A.    Urologi
Dalam bidang urologi, terapi pada disfungsi bladder dimulai saat periode neonatal sampai sepanjang hidup. Tujuan utamanya adalah :
1.      Mengontrol inkotinensia
2.      Mencegah dan mengontrol infeksi
3.      Mempertahankan fungsi ginjal
Intermiten kateterisasi dapat dimulai pada residual urin > 20 cc dan kebanyakan anak umur 5 - 6 tahun dapat melakukan clean intermittent catheterization (CIC) dengan mandiri. Bila terapi konservatif gagal mengontrol inkontinensia, prosedur bedah dapat dipertimbangkan. Untuk mencegah refluk dapat dilakukan ureteral reimplantasi, bladder augmentation, atau suprapubic vesicostomy.
B.     Orthopedi
Tujuan terapi ortopedi adalah memelihara stabilitas spine dengan koreksi yang terbaik dan mencapai anatomi alignment yang baik pada sendi ekstremitas bawah. Dislokasi hip dan pelvic obliquity sering bersama-sama dengan skoliosis paralitik. Terapi skoliosis dapat dengan pemberian ortesa body jacket atau Milwaukee brace. Fusi spinal dan fiksasi internal juga dapat dilakukan untuk memperbaiki deformitas tulang belakang. Imbalans gaya mekanik antara hip fleksi dan adduksi dengan kelemahan abduktor dan fungsi ekstensor menghasilkan fetal coxa valga dan acetabulum yang displastik, dangkal dan parsial. Hip abduction splint atau Pavlik harness digunakan 2 tahun pertama untuk counter gaya mekaniknya.
Pemanjangan tendon Achilles untuk deformitas equinus, flexor tenodesis atau transfer dan plantar fasciotomi untuk deformitas claw toe dan pes cavus yang berat. Subtalar fusion, epiphysiodesis, triple arthrodesis atau talectomi dilakukan bila operasi pada jaringan lunak tidak memberikan hasil yang memuaskan.
C.    Rehabilitasi Medik
1.      Sistem Muskuloskeletal
Latihan luas gerak sendi pasif pada semua sendi sejak bayi baru lahir dilakukan seterusnya untuk mencegah deformitas muskuloskeletal. Latihan penguatan dilakukan pada otot yang lemah, otot partial inervation atau setelah prosedur tendon transfer.
2.      Perkembangan Motorik
Stimulasi motorik sedini mungkin dilakukan dengan memperhatikan tingkat dari defisit neurologis.
3.      Ambulasi
Alat bantu untuk berdiri dapat dimulai diberikan pada umur 12 – 18 bulan. Spinal brace diberikan pada kasus-kasus dengan skoliosis. Reciprocal gait orthosis (RGO) atau Isocentric Reciprocal gait orthosis (IRGO) sangat efektif digunakan bila hip dapat fleksi dengan aktif. HKAFO digunakan untuk mengkompensasi instabilitas hip disertai gangguan aligment lutut. KAFO untuk mengoreksi fleksi lutut agar mampu ke posisi berdiri tegak. Penggunaan kursi roda dapat dimulai saat tahun kedua terutama pada anak yang tidak dapat diharapkan melakukan ambulasi.
4.      Bowel training
Diet tinggi serat dan cairan yang cukup membantu feses lebih lunak dan berbentuk sehingga mudah dikeluarkan. Pengeluaran feses dilakukan 30 menit setelah makan dengan menggunakan reflek gastrokolik. Crede manuver dilakukan saat anak duduk di toilet untuk menambah kekuatan mengeluarkan dan mengosongkan feses Stimulasi digital atau supositoria rektal digunakan untuk merangsang kontraksi rektal sigmoid. Fekal softener digunakan bila stimulasi digital tidak berhasil.
2.10 Komplikasi
Terjadi pada salahsatu syaraf yang terkena dengan menimbulkan suatu kerusakan pada syaraf spinal cord, dengan itu dapat menimbulkan suatu komplikasi tergantung pada syaraf yang rusak.
Komplikasi yang lain adalah : Terjadi pada salah satu syaraf yang terkena dengan menimbulkan suatu kerusakan pada syaraf spinal cord, dengan itu dapat menimbulkan suatu komplikasi tergantung pada syaraf yang rusak.
• Kejang
• Hidrocephalus
Bayi lahir dengan spina bifida juga mungkin hydrocephalus. Selain lesi di sumsum tulang belakang, ada kelainan pada struktur bagian-bagian tertentu dari otak, yang menyebabkan obstruksi ke-cairan cerebro spinal (CSF) jalur drainase. CSF terakumulasi dalam ventrikel di otak, menyebabkan mereka membengkak, sehingga kompresi dari jaringan sekitarnya.
2.11 Pencegahan
Resiko terjadinya spina bifida bisa dikurangi dengan mengkonsumsi asam folat. , Kekurangan asam folat pada seorang wanita harus ditangani sebelum wanita tersebut hamil, karena kelainan ini terjadi sangat dini., Pada wanita hamil dianjurkan untuk mengkonsumsi asam folat sebanyak 0,4 mg/hari. Kebutuhan asam folat pada wanita hamil adalah 1 mg/hari.
BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN
3.1 Pengkajian
1.      Identitas pasien
Nama, jenis kelamin, umur, alamat, nama ayah, nama ibu, pekerjaan ayah, pekerjaan ibu.
2.      Keluhan utama
Terjadi abnormalitas keadaan medula spinalis pada bayi yang baru dilahirkan.
1.      Riwayat penyakit sekarang
2.      Riwayat penyakit terdahulu
3.      Riwayat keluarga
Saat hamil ibu jarang atau tidak mengkonsumsi makanan yang mengandung asam folat misalnya sayuran, buah-buahan (jeruk,alpukat), susu, daging, dan hati.
3.      Pemeriksaan Fisik
B1 (Breathing) : normal
B2 (Blood) : takikardi/bradikardi, letargi, fatigue
B4 (Bladder) : Inkontinensia urin
B5 (Bowel)   : Inkontinensia feses
B6 (Bone)    : Kontraktur/ dislokasi sendi, hipoplasi ekstremitas bagian bawa


3.3    Diagnosa
1.hambatan mobilitas fisik berhubungan dengan paralisis motorik.
2.gangguan inkontinensia alvi yang berhubungan dengan paralisis visera.
3.Gangguan perfusi jaringan sehubungan dengan peningkatan tekanan intrakranial
4.
Resiko tinggi cedera b.d peningkatan intra kranial (TIK)
5. kecemasan orang tua yang berhubungan dengan krisis situasional, perubahan status kesehatan.
6. intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan fisik
3.4 Intervensi
DX 1  hambatan mobilitas fisik berhubungan dengan paralisis motorik
Tujuan: dalam waktu 3x24 jam klien mampu melaksanakan aktivitas fisik sesuai dengan kemampuannya.
Kriteria hasil:
1.      Klien dapat ikut serta dalam program latihan.
2.      Tidak terjadi kontraktur sendi.
3.      Bertambahnya kekuatan otot.
4.      Klien menunjukkan tindakan untuk meningkatkan mobilitas.
Intervensi
Rasional
1.      Kaji mobilitas yang ada dan observasi terhadap peningkatan kerusakan. Kaji secara teratur fungsi motorik.
2.      Ubah posisi klien tiap 2 jam


3.      Ajarkan klien untuk melakukan latihan gerakan aktif pada ekstremitas yang tidak sakit.
4.      Lakukan gerak pasif pada ekstremitas yang sakit.

5.      Pertahankan sendi 90 derajat terhadap papan kaki
1.      Mengetahui tingkat kemampuan klien dalam melakukan aktivitas.


2.      Menurunkan risiko terjadinya iskemia jaringan akibat sirkulasi darah yang buruk pada daerah yang tertekan.
3.      Gerakan aktif memberikan massa, tonus dan kekuatan otot serta memperbaiki fungsi jantung dan pernapasan.
4.      Otot volunter akan kehilangan tonus dan kekuatannya bila tidak dilatih untuk digerakkan.
5.      Telapak kaki dalam posisi 90 derajat dapat mencegah footdrop.
DX 2 gangguan inkontinensia alvi yang berhubungan dengan paralisis visera.
Tujuan: dalam waktu 2x24 jam terdapat peningkatan dalam pemenuhan eliminasi alvi.
Kriteria hasil:
1.      Klien dapat defekasi secara spontan dan lancar tanpa menggunakan obat.
2.      Konsistensi feses lembek berbentuk.
3.      Tidak teraba masa pada kolon (scibala)
4.      Bising usus normal (15-30 x/menit)
Intervensi
Rasional
1.      Berikan penjelasan pada klien dan keluarga tentang penyebab konstipasi.
2.      Auskultasi bising usus.

3.      Anjurkan pada klien untuk makan makanan yang mengandung serat.

4.      Bila klien mampu minum, berikan intake cairan yang cukup (2 liter/hari) jika tidak ada kontraindikasi.
5.      Lakukan mobilisasi sesuai dengan keadaan klien.


6.      Kolaborasi dengan tinm dokter dalam pemberian pelunak feses.
1.      Klien dan keluarga mengerti penyebab konstipasi.

2.      Bising usus menandakan sifat aktivitas peristaltik.
3.      Diet seimbang tinggi kandungan serat merangsang peristaltik dan eliminasi reguler.
4.      Masukan cairan adekuat membantu mempertahankan konsistensi feses yang sesuai pada usus dan membantu elimnasi reguler.
5.      Aktivitas fisik reguler membantu eliminasi dengan memperbaiki tonus otot abdomen dan merangsang nafsu makan dan peristaltik.
6.      Pelunak feses meningkatkan efisiensi pembasahan air usus, yang masa feses dan membantu eliminasi.

DX 3 : Gangguan perfusi jaringan sehubungan dengan peningkatan tekanan intrakranial
Tujuan
·  Pasien kembali pada,keadaan status neurologis sebelum sakit
·  Meningkatnya kesadaran pasien dan fungsi sensoris

Kriteria hasil
·  Tanda-tanda vital dalam batas normal
·  Rasa sakit kepala berkurang
·  Kesadaran meningkat
·  Adanya peningkatan kognitif dan tidak ada atau hilangnya tanda-tanda tekanan intrakranial yang meningkat.

Rencana Tindakan
INTERVENSI
RASIONALISASI
Pasien bed rest total dengan posisi tidur terlentang tanpa bantal
Perubahan pada tekanan intakranial akan dapat meyebabkan resiko untuk terjadinya herniasi otak
Monitor tanda-tanda status neurologis dengan GCS.
Dapat mengurangi kerusakan otak lebih lanjt
Monitor tanda-tanda vital seperti TD, Nadi, Suhu, Resoirasi dan hati-hati pada hipertensi sistolik
Pada keadaan normal autoregulasi mempertahankan keadaan tekanan darah sistemik berubah secara fluktuasi. Kegagalan autoreguler akan menyebabkan kerusakan vaskuler cerebral yang dapat dimanifestasikan dengan peningkatan sistolik dan diiukuti oleh penurunan tekanan diastolik. Sedangkan peningkatan suhu dapat menggambarkan perjalanan infeksi.
Monitor intake dan output
hipertermi dapat menyebabkan peningkatan IWL dan meningkatkan resiko dehidrasi terutama pada pasien yang tidak sadra, nausea yang menurunkan intake per oral
Bantu pasien untuk membatasi muntah, batuk. Anjurkan pasien untuk mengeluarkan napas apabila bergerak atau berbalik di tempat tidur.
Aktifitas ini dapat meningkatkan tekanan intrakranial dan intraabdomen. Mengeluarkan napas sewaktu bergerak atau merubah posisi dapat melindungi diri dari efek valsava
Kolaborasi
Berikan cairan perinfus dengan perhatian ketat.

Meminimalkan fluktuasi pada beban vaskuler dan tekanan intrakranial, vetriksi cairan dan cairan dapat menurunkan edema cerebral
Monitor AGD bila diperlukan pemberian oksigen
Adanya kemungkinan asidosis disertai dengan pelepasan oksigen pada tingkat sel dapat menyebabkan terjadinya iskhemik serebral
Berikan terapi sesuai advis dokter seperti: Steroid, Aminofel, Antibiotika.

Terapi yang diberikan dapat menurunkan permeabilitas kapiler.
Menurunkan edema serebri
Menurunka metabolik sel / konsumsi dan kejang.



DX 4 : Resiko tinggi cedera b.d peningkatan intra kranial (TIK)
Tujuan : pasien tidak mengalami peningkatan tekanan intrakranial
Kriteria Hasil :   anak tidak menunjukan bukti-bukti peningkatan TIK
Intervensi
Rasional
1.      Observasi dengan cermat adanya tanda-tanda peningkatan TIK
2.      Lakukan pengkajian Neurologis dasar pada praoperasi
3.      Hindari sedasi
4.      Ajari keluarga tentang tanda-tanda peningkatan TIK dan kapan harus memberitahu
1.      Untuk mencegah keterlambatan tindakan
2.      Sebagai pedoman untuk pengkajian pascaoperasi dan evaluasi fungsi firau
3.      Karena tingat kesadaran adalah pirau penting dari peningkatan TIK
4.      Praktisi kesehatan untuk mencegah keterlambatan tindakan
DX 5 : kecemasan orang tua yang berhubungan dengan krisis situasional.
Tujuan : dalam waktu 1x24 jam secara subjektif melaporkan rasa cemas berkurang.
Kriteria hasil:
1.      Klien atau orangtua mampu mengungkapkan perasaan yang kaku dan cara-cara yang sehat kepada perawat.
2.      Klien atau orangtua dapat mencatat penurunan kecemasan/ketakutan di bawah standar.
3.      Klien dapat rileks dan tidur/istirahat dengan baik.
Intervensi
Rasional
Mandiri
1.      Identifikasi persepsi klien untuk menggambarkan tindakan sesuai situasi.
2.      Monitor respons fisik seperti kelemahan, perubahan tanda vital, gerakan yang berulang-ulang, catat kesesuaian respons verbal dan nonverbal selama komunikasi.
3.      Anjurkan klien dan keluarga mengungkapkan dan mengekspresikan rasa takutnya.
4.      Anjurkan untuk mengungkapkan situasi yang cemas dan takut.
5.      Kaji ulang bersama klien/keluarga tindakan pengaman yang ada seperti kekuatan dan suplai oksigen, kelengkapan suction emergency.
Kolaborasi
6.      Rujuk ke bagiam lain guna penanganganan selanjutnya.

1.      Menegaskan batasan masalah individu dan pengaruhnya selama diberikan intervensi.
2.      Digunakan dalam mengevaluasi derajat/tingkat kesadaran/konsentrasi, khususnya ketika melakukan komunikasi verbal.

3.      Memberikan kesempatan untuk berkonsentrasi, kejelasan dari rasa takut, dan mengurangi cemas yang berlebihan.
4.      Memvalidasi situasi yang nyata tanpa mengurangi pengaruh emosional.
5.      Menentramkan hati klien untuk membantu menghilangkan cemas yang tidak berguna dan menyiapkan rencana sebagai respons dalam keadaan darurat.

6.      Mungkin dibutuhkan untuk membantu jika klien/keluarga tidak dapat mengurangi cemas atau ketika klien membutuhkan alat yang lebih canggih.










DX 6 : intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan fisik
Tujuan : setelah dilakukan tindakan 2x24 jam pasien tidak intoleransi aktivitas lagi
Kriteria Hasil :
a.       berpartisipasi dalam aktivitas yang diinginkan
b.      menunjukkan penurunan dalam tanda-tanda intoleransi fisiologi

Intervensi
Rasional
1.      kaji respon aktivitas
2.      instruksi pasien tentang teknik penghematan energi
3.      beri dorongan untuk melakukan aktivitas atau perawatan diri bertahap jika intoleransi kembai
1.      mengetahui seberat atau sebesar apakah aktivitas yang dapat dilakukan oleh klien
2.      pasien dapat menghemat energinya sendiri
3.      pasien dan keluarga dapat melakukan perawat diri sendiri apabila intoleransi kembali

3.4    Evaluasi
DX 1
1.      klien mengatakan telah dapat melakukan aktivitas fisik seperti biasa
2.      klien tampak dapat melakukan aktivitas
DX 2
1.      klien mengatakan telah dapat melakukan eliminasi alvi
2.       klien tampak nya telah melakukan alvi
DX 3 :
1.      klien mengatakan integeritas tidak terjadi
2.      kulit klien tampak tidak terjadi inteerigitas ulit dan tampak lembut
DX 4:
1.      klien mengatakan tekanan intrakranial tidak terjadi
2.       klien tampak menunjukan tekanan intrakranial tidak terjadi
 
DX 5:
1.      klien mengatakan atau keluarga mengatakan rasa cemas berkurang
2.      klien tampak tidak telalu merasakan cemas

DX 6:
1.      klien mengatakan telah dapat melakukan aktivitas seperti biasa
2.       klien tampak melakukan aktivitas














BAB IV
PENUTUP
4.1    Kesimpulan
Spina bifida merupakan suatu kelainan bawaan berupa defek pada arkus pascaerior tulang belakang akibat kegagalan penutupan elemen saraf dari kanalis spinalis pada perkembangan awal dari embrio. Penyebab dari spina bifida belum diketahui secara pasti,tetapi diduga akibat faktor genetik dan kekurangan asam folat pada masa kehamilan. Gejala bervariasi tergantung kepada beratnya kerusakan pada korda spinalis dan akar saraf yang terkena. Beberapa anak memiliki gejala ringan atau tanpa gejala, sedangkan yang lainnya mengalami kelumpuhan pada daerah yang dipersarafi oleh korda spinalis maupun nakar saraf yang terkena.
Pembedahan mielomeningokel dilakukan pada periode neonetal untuk mencegah ruptur. Perbaikan dengan pembedahan pada lesi spinal dan pirau CSS pada bayi hidrosefalus dilakukan pada saat kelahiran. Pencangkokan pada kulit diperlukan bila lesinya besar. Pembedahan dilakukan untuk menutup lubang yang terbentuk dan untuk mengobati hidrosefalus. Kelainan ginjal dan kandung kemih serta kelainan bentuk fisik yang sering menyertai spina bifida.
4.2 .Saran
Deteksi dini dan pencegahan pada awal kehamilan dianjurkan untuk semua ibu yang telah melahirkan anak dengan gangguan ini dan dan pemeriksaan ditawarkan bagi semua wanita hamil.





DAFTAR PUSTAKA
Muttaqin, Arif. 2008. Asuhan Keperawatan Klien dengan Gangguan Sistem Persarafan. Jakarta: Salemba Medika.
Zaa23.2009.Spina Bifida. Diakses dari: http://zaa23.wordpress.com/2009/05/13/spina-bifida/. Pada : 10 November 2010. Jam : 10.00 WI
Donna dan Shannon.1999.Maternal Child Nursing Care.USA: Mosby.
Muttaqin, Arif.2008.Asuhan Keperawatan Klien dengan Gangguan Sistem Persyarafan.Jakarta: Salemba Medika.












2.6 pathwy
Kekurangan asam folat pada awal pembentukan embrio
Kelainan kongenital
Kegagalan penutupan elemen saraf dari kanalis spinalis
Defek pada arkus pascaerior tulang belakang
Kegagalan fungsi arkus pascaaeror  vetrabrata pada daerah lumbosacral


            Spina bifida okulta                                                                                                                  spina bifida aperta


   Paralis spastik                    peningkatan TIK                                                                                 terlibatnya struktur saraf
Resiko  tinggi    cedera
 

Gangguan  perfusi   jaringan
                                                                     deficit neurologis                    penekanan area pengatur kesadaran
                                                                                                                    
                                                                                             perubahan status kesadaran(krisissituasional)
Kecemasan keluarga
                                                                                
                                             Paralisis visera   paralisis motoric        paralisis sensorik        
Gangguan inkontinensia alvi
                                                                     Paralisis anggota           kehilangan sensorik
gerak bawah                     gerak bawah
Hambatan mobilitas fisik
                                                                                               
                                                                                        kelemahan fisik
Intoleransi aktivitas